Latest Entries »

Teknologi Pembuatan Besi Cor Nodular

Dalam masa krisis ekonomi seperti saat ini, sebagian besar bengkel pengecoran di wilayah sentra industri kecil Ceper ini sudah lumpuh. Penyebabnya adalah kenaikan bahan baku dan bahan penolong yang sangat tinggi sedangkan harga jualnya tidak bisa mengimbangi. Produk besi cor nodular ini nilai tambahnya lebih tinggi dibandingkan dengan besi cor kelabu sehingga diharapkan akan dapat meningkatkan pendapatan industri kecil tersebut.
Tujuan kegiatan ini adalah untuk meningkatkan penguasan teknologi pengecoran logam industri kecil dan menengah di Ceper agar mampu membuat produk-produk cor yang mempunyai nilai tambah lebih tinggi, yaitu besi cor nodular.

MANFAAT

Alasan digunakannya besi cor nodular sebagai pengganti bahan baja untuk komponen otomotive adalah karena biaya produksi besi cor nodular lebih rendah, waktu produksi lebih singkat . Selain itu untuk ukuran dan bentuk yang sama, besi cor nodular bobotnya lebih ringan dan yang lebih penting lagi adalah karena besi cor nodular dapat di-heat treatment sehingga produk yang dihasilkan mempunyai sifat-sifat unggul seperti baja.

BAHAN

Bahan Baku Utama
Bahan baku utama untuk pembuatan besi cor nodular adalah pig iron, scrap baja, dan scrap balik (return scrap).

Bahan Penolong
Selain bahan baku utama, diperlukan juga beberapa bahan penolong yaitu Nodulariser, inokulan, dan carburizer. Ada beberapa jenis Nodulariser yang dapat dipakai untuk pembuatan besi cor nodular

TAHAPAN PEMBUATAN

A. Persiapan
– Pemilihan produk yang akan dibuat
– Rancangan dan Spesifikasi Teknis
– Penentuan Teknik Pengecoran

B. Pencampuran Pasir
Pasir yang umumnya digunakan sebagai pasir cetak adalah jenis pasir silika, dimana kandungan clay-nya harus kurang dari 2%. Menurut ketentuan standar JIS G5901 ada 6 grade pasir cetak silika

C. Pembuatan Cetakan Pasir dan Inti

D. Pembuatan Model/Pattern
Dalam pembuatan model/pattern harus diperhitungkan penyusutan volume benda tuang pada saat membeku. Penyusutan ini besarnya antara 0,4 % sampai 0,8 %.

E. Peleburan
Peleburan umumnya dilakukan dalam dapur induksi listrik atau bisa juga menggunakan kupola. Peleburan dengan kupola mempunyai kendala dalam pengendalian kadar sulfur didalam besi cair. Sulfur ini diperoleh dari kokas yang dipakai sebagai sumber energi peleburan. Peleburan dengan memakai dapur induksi listrik lebih memudahkan pengendalian komposisi kimia cairan besi.

F. Pembuatan cetakan dan Inti
Pasir cetak , air , bentonit dan gula tetes yang sudah dicampur di mesin mixer dimasukkan kedalam rangka cetak, yang terdiri dari rangka atas (cup) dan rangka bawah (drag), dimana pola/pattern yang terbuat dari kayu sudah di-set terlebih dahulu. Cetakan pasir ini kemudian dipadatkan dengan memakai meja getar (jolt and squeeze machine).

G. Nodularisasi

H. Inokulasi

I. Penuangan dan Sistem Saluran Tuang

J. Pembersihan Tuangan

K. Perlakuan Panas dan Pengerjaan Akhir

L. Pemeriksaan dan Pengujian Kualitas

M. Pengecatan Dasar

Perkembangan Internet di Indonesia

Zaman sekarang, internet merupakan kebutuhan bagi banyak orang karena dengan internet kita bisa mengakses dan menemukan segala informasi di seluruh dunia dengan cepat dan mudah. Kebutuhan internet yang sangat penting sehingga peningkatan jumlah pemakai internet setiap tahun yang selalu meningkat di seluruh dunia. Di Indonesia sendiri jumlah pemakai internet selalu meningkat dengan peningkatan yang cukup besar.

Sekarang banyak sekali layanan-layanan akses internet yang bisa kita pilih sesuai dengan kebutuhan kita, salah satunya layanan akses internet dari PT. Telkom seperti Telkomnet Instan dan Telkom Speedy. Telkomnet Instan merupakan layanan akses Dial-Up dengan kecepatan berkisar antara 40 Kbps – 56 Kbps sedangkan Telkom Speedy merupakan akses ADSL dengan kecepatan Up To 384 Kbps. Selain itu masih banyak sekali layanan-layanan akses internet yang bisa kita pilih.

Ada lagi layanan internet yang menggunakan Wireless Lan yang merupakan akses internet tanpa kabel atau menggunakan gelombang elektromagnetik seperti akses GPRS menggunakan handphone, PDA, laptop, dll. Selain itu sinyal Hotspot yang sering disebarkan ditempat-tempat seperti Mall, Cafe, Kampus, atau berbagai tempat lainnya bisa digunakan untuk mengakses internet, kita hanya perlu membawa peralatan mobile kita ditempat tersebut dan berinternetan disana.

Untuk dapat mengakses internet baik dengan kabel atau tanpa kabel selain diperlukan seperangkat komputer atau laptop diperlukan juga sebuah alat yang disebut Modem, modem berfungsi sebagai protokol yang mengubah sinyal analog menjadi sinyal digital atau sebaliknya.

Mungkin itu saja tulisan yang dapat saya sampaikan hari ini… Selalu kunjungi blog ini karena saya akan selalu meng-update tulisan saya setiap harinya…

Apakah Teknologi Adalah Solusi Perpustakaan

Implementasi teknologi di bidang pendidikan perlu diintegrasikan ke dalam perencanaan (master plan) terhadap semua aspek pengembangan pendidikan secara seimbang (bukan secara proyek). Sering pengumuman yang muncul di media mengenai teknologi di arena pendidikan kelihatannya kurang menilaikan penelitian dan pengalaman di dunia pendidikan. Kasus-kasus teknologi dan pendidikan tertentu kelihatannya juga diankat sebagai solusi umum.

Padahal ada hal-hal yang perlu diatasi dulu misalnya: “Sekolah tak Bisa Tangkal Situs Porno” yang akan perlu SDM di tingkat sekolah yang sangat bermutu dan rajin.

Memang kita wajib untuk mencari solusi yang kreatif, tetapi kita juga wajib untuk belajar dari pengalaman-pengalaman yang ada di dunia supaya kita tidak hanya mengulangkan kegagalan negara lain. Kelihatannya pertanyaan-pertanyaan dasar yang penting sering tidak ditanyakan, seperti, mengapa di negara-negara maju mereka tidak melaksanakan ini? Mengapa di negara mana saja dasarnya pendidikan masih berbasis-kelas konvensional, bukan berbasis-TI? Mungkin negara lain belum memikirkan? Percayalah, dunia pendidikan termasuk bidang yang paling rajin untuk mencari kesempatan untuk menggunakan teknologi. Sering isu pendidikan dan ‘teknologi baru’ sudah dibahas dan diuji coba sebelum teknologinya muncul di pasar.

Yang perlu diperhatikan adalah inovasi-inovasi baru (dan sering yang tidak baru) akan ditunjuk dan didorongkan oleh perusahaan-perusahaan teknologi yang sangat beruntung kalau teknologinya didadopsi di dunia pendidikan. ‘Tetapi kita sebagai pendidik harus selalu melihat semua aplikasi teknologi dari kenyataan dan keuntungan terhadap mutu pendidikan’ (bukan dari retorika).

Apakah, karena makin banyak siswa-siswi sekarang main Internet di warnet daripada menggunakan waktunya di rumah untuk mengulang pelajaran dari sekolah dan mengerjakan PRnya ini sebagai salah satu faktor penyebab hasil Ujian Nasional (UN) kelihatannya menjadi lebih buruk?

Kita perlu tahu!

Kalau kita melihat beberapa macam teknologi pendidikan, misalnya; Whiteboard-Elektronik, OHP, Video, Televisi, e-Learning, Internet, dll, selalu mutu akhirnya 100% tergantung mutu content dan proses pengajaran. Teknologi sendiri hanya sebagai medium. Kalau berhasil atau gagal tergantung content dan proses pengajaran, bukan teknologinya. Dengan teknologi seperti TV-Edukasi misalnya, siaran TV masuk sekolah kayaknya gagal karena kurang meneliti pengalaman-pengalaman di negara lain, dan juga tidak melihat dari keadaan dan keperluan guru di sekolah. Hasil sekolah 100% tergantung mutu pendidikannya, bukan teknologi yang mereka menggunakan untuk menyampaikan pendidikannya.

Kebetulan kemarin di seminar “Cutting Cost with ICT Convergence” salah satu wilayah yang disebut yang belum memasang teknologi wireless adalah daerah Pacitan. Pacitan adalah salah satu daerah di mana kami sudah menyaksikan pelaksanan pendidikan yang sangat bermutu. Guru-gurunya bersemangat melaksanakan PAKEM dan sangat mengembankan kreativitas siswa-siswinya. Sekolah-sekolah yang belum terlatih juga belajar PAKEM secara mandiri – salut!

Mohon ingat ……

Pendidikan Berbasis-Guru yang Mampu dan Sejahtera, di Sekolah yang Bermutu, dengan Kurikulum yang Sesuai dengan Kebutuhan Siswa-Siswi dan “Well Balanced” (seimbang, dengan banyak macam keterampilan termasuk teknologi), yang Diimplementasikan secara PAKEM adalah solusi utama untuk menyiapkan anak-anak kita untuk menghadapi tantangan-tantangan masa depan.

Pembelajaran Teknologi Informasi Komunikasi (TIK) adalah hal yang sangat penting di semua sekolah. Tetapi akses ke Internet untuk siswa-siswi di sekolah di luar pelatihan khusus sebenarnya tidak begitu penting, kecuali untuk melanjutkan pelajaran yang dibimbing oleh guru.

Pasti banyak siswa-siswi tidak akan setuju karena main Internet memang “fun”, tetapi kami belum melihat bukti bahwa anak-anak sekolah yang sering menggunakan Internet secara bebas lebih berhasil di UN daripada yang menggunakan waktunya untuk mengulang pelajaran sekolahnya dan rajin mengerjakan PRnya. Mungkin sebaliknya?

Suka atau tidak suka, siswa-siswi kita akan dinilai dari hasil mereka di UN atau Ujian Sekolah (bukan dari kemampuan mereka “Chatting di Internet”). Selain masalah ujian, kapan siswa-siswi akan punya waktu di sekolah dengan kurikulum yang sangat padat untuk menggunakan Internet kecuali di kelas TI. Apakah kita ingin mengganti guru dengan pelajaran dari Internet (machine)? Sudah sering dicoba di negara lain!

Sekarang kita sedang mencoba “Sistem Pembelajaran Berbasis-TI”. Kami pertama kali kenal Pembelajaran Berbasis-TI pada tahun 1992 di luar negeri, memang bukan sesuatu yang baru dan masih hanya digunakan di kursus/kelas tertentu saja. Tetapi kalau kreativitas sebagian dari siswa-siswi kita dapat ditingkatkan oleh ‘membuat program-program’ seperti ini yaitu memang baik.

Kita lihat bahwa pemerintah akan siapkan Rp 1 Triliun untuk “melengkapi laboratorium komputer” di sekolah-sekolah SMP/SMA/SMK untuk e-learning. Tetapi kalau sekolahnya hanya memiliki satu laboratorium komputer itu pasti akan dipakai terus untuk mengajar TI, bukan?. Apakah semua sekolah akan menerima cukup komputer untuk melengkapi beberapa lab/kelas?

Apakah “Pembelajaran Berbasis-TI” atau “E-Learning” betul adalah solusi rialistik untuk seluruh Indonesia? Atau, Pembelajaran Berbasis-TI hanya akan membesarkan jaraknya lagi antara sekolah yang punya dan yang tidak? Memang semua sekolah wajib untuk mempunyai lab komputer untuk mengajar TI (ini saja belum), tetapi kita akan perlu beberapa kelas lagi (di semua sekolah) yang dilengkapi dengan komputer supaya mata pelajaran yang lain juga dapat menggunakan komputer. Kalau kita melihat dari harga teknologinya (yang setiap beberapa tahun perlu diupdate), kurikulum yang sering dirubah, ongkos pemiliharaan teknologinya, dll, dengan anggaran yang sekarang tidak cukup untuk mengelola pendidikan ‘Berbasis-Guru’ dengan baik atau meningkatkan kesejahteraan guru dan staf TU sampai jadi manusiawi, bagaimana mungkin? (Saran 12/11/2007)

Mengapa kita selalu mencari solusi baru (yang sering tidak baru seperti TV-Edukasi atau Pembelajaran Berbasis-TI) untuk meningkatkan pendidikan di Indonesia? Apakah karena alokasi anggaran memang tidak cukup untuk memperbaiki pendidikannya dan kita hanya mencari kesibukan? Atau karena paradigma lama kita (proyek) belum merubah sejak awal? Mengapa teknologi sering dianggap sebagai solusinya?

Misalnya, sekarang DepDikNas sedang membangun jaringan JarDikNas. Salah satu tujuan utama adalah meningkatkan mutu pendidikan lewat informasi yang lebih lengkap. Tetapi kelihatannya informasi mengenai masalah-masalah di lapangan sudah banyak sekali. Termasuk informasi mengenai keadaan di banyak sekolah yang ambruk dan mengancam keamanan anak-anak kita. Kapan masalah-masalah begini akan diatasi?

Apakah tidak lebih baik kalau kita menggunakan 100% dari anggaran Rp.42 triliun itu untuk mengatasi hal-hal yang sudah jelas dapat meningkatkan mutu pendidikan di tingkat sekolah, sesuai pemintaan dari lapangan dan perencanaan terhadap semua aspek kebutuhan sekolah?

Maksud kami, kalau atap sekolahnya bocor dan mau ambruk, tetapi yang diberikan adalah sambungan ke Internat, apakah ini betul bermanfaat? Kita perlu mulai dengan sekolah yang paling ketinggalan supaya mengarah ke keadilan akses pendidikan yang bermutu (dan melihat dari segala aspek). Tetapi karena JarDikNas sudah berjalan sebaiknya kita “Berfikir Optimis” dan mudah-mudahan banyak sekolah akan diberikan komputer, kalau betul ini memang positif. Untuk berita baru (5-1-2008) membaca ini “Pemindahan Jardiknas” (termasuk saran-sarannya). Memang itu sulit untuk “berpikir optimis”!

“Kata Menkominfo, akses-akses informasi pada jaringan ICT tersebut, akan ditekankan pada unsur e-education (pendidikan), e-health (kesehatan), dan e-economy (ekonomi) yang dapat mengurangi gap di bidang ICT antara daerah pedesaan dan daerah perkotaan”.
Tetapi ini akan sangat tergantung peran dan mutunya SDM di pemerintah, bukan?.

SOFTWERE

Software pendidikan

Software pendidikan saat ini memang sedang populer.Terutama Software Pendidikan Gratis yang berhubungan dengan latihan. Hampir tiap hari masyarakat dunia mendownload software-software gratis yang mempunyai unsur edukasi. Memang berita/news dunia tekhnologi pada tahun 2009 dan 2010 sedang banyak dibutuhkan. Salah satunya adalah program untuk pelatihan.
Salah satu software yang sering dicari adalah program komputer untuk melatih atau tes kecepatan dalam mengetik. RapidTyping merupakan software yang membantu Anda agar melatih jari-jari menjadi lebih mudah dalam mengetik. RapidTyping tersedia dalam banyak bahasa, termasuk bahasa Indonesia. Dengan hal ini, anak-anak pun bisa menggunakan software ini.
Ketika Anda memulai program gratis ini, ada suatu wizard untuk memilih tipe keyboard yang sesuai komputer Anda. Terdapat 6 bagian pelajaran yang diujikan.
1. Kata
2. Suku Kata
3. Huruf Besar
4. Huruf
5. Dig. Dan Simbol
6. Teks
Terdapat juga skin yang setiap waktu dapat diganti dalam menu pengaturan. Standarnya hanya tedapat dua pilihan. Namun Anda dapat meng-update di website resminya.

HARDWERE

Printer Canon Pixma MX860

Nama Produsen : Canon
Model Printer : MX860
Kelebihan : Resolusi 9600 x 2400dpi pada Canon Pixma MX860 membuat dokumen cetak,
terutama foto,muncul berkualitas tinggi.
Kelemahan : Printer ini perlu memiliki satu tempat khusus karena terlalu besar dan berat maka akan
merepotkan Anda jika sering harus sering memindahkannya.
Keputusan : Canon Pixma MX860 merupakan printer yang ideal jika Anda bergelut di usaha bisnis printing
dan sangat cocok untuk printer rumah dan kantor.

Spesifikasi hardware Printer Terbaru 2011 Canon Pixma MX860

Max Resolution (Color) : 9600 x 2400 dpi
Max Resolution (B/W) : 600 x 600 dpi
Scanner Resolution : 2400 x 4800 dpi
Black Print Speed : 35 ppm
Color Print Speed : 28 ppm
Printer Warranty : 1 Year
Wi-Fi Connectivity : Yes
Fax Speed : 33.6 bps
Memory Card Compatibility : SD, SDHC, Memory Stick
Copy Speed Black : 35 ppm
Copy Speed Color : 28 ppm
Energy Star : Yes
Max Media Size : 8.5 x 11 in
Monthly Duty Cycle : 15,000
Printer Depth : 17.1 in
Printer Height : 8.9 in
Printer Weight : 26.4 lbs
Printer Width : 19.4 in
Status Panel : Color LCD
Total Media Capacity : 150 Sheets

Hello world!

Welcome to WordPress.com. After you read this, you should delete and write your own post, with a new title above. Or hit Add New on the left (of the admin dashboard) to start a fresh post.

Here are some suggestions for your first post.

  1. You can find new ideas for what to blog about by reading the Daily Post.
  2. Add PressThis to your browser. It creates a new blog post for you about any interesting  page you read on the web.
  3. Make some changes to this page, and then hit preview on the right. You can alway preview any post or edit you before you share it to the world.